setan, jin dan hantu ….. hanya imajinasi!

Penafsiran Saya Mengenai Iblis (update 27/11/2007)

Nopember 25, 2007 · 10 Komentar

Tulisan ini kelanjutan dari Apa tujuan Tuhan menciptakan kisah Pembangkangan Iblis dalam Al Quran?

Berbeda dengan penafsiran oleh Maulana Muhammad Ali/MMA  (besok pagi saya post pendapat MMA)  saya punya konsep sendiri tentang Iblis yang lebih masuk akal, mudah untuk dipahami, ya paling tidak buat saya sendiri. Saya tidak tahu mengapa MMA tidak berusaha mencari arti dibalik  kisah (arti kiasan) dalam Alquran surat 7 dan 2 yang melibatkan antara lain Tuhan, Malaikat, dan Iblis yang dihadiri juga oleh Adam. Kisah dialog yang bagi saya terasa aneh sekiranya ini benar-benar terjadi. MMA nampaknya terjebak dalam permasalahan apakah Iblis merupakan Malaikat ataukah bukan?

Dalam Surat 2 dan 7 diceritakan tentang dialog yang melibatkan Tuhan, Malaikat, Iblis dan Adam.

Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS 2:34) 

Allah berfirman “apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) waktu Aku menyuruhmu? Menjawab Iblis:”Saya lebih baik dari Adam, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia engkau ciptakan dari tanah.” (QS 7:12) 

Saya tidak tahu pasti apa sih arti Adam ini dalam bahasa Arab atau bahasa Ibrani, tapi saya pernah menjumpai seseorang dalam suatu forum diskusi di situs killthedevilhill.com (Saya lupa url pastinya, karena sudah lama sekali, mungkin sekitar tahun 1998) pernah berpendapat bahwa kata Adam dalam Alkitab maksudnya adalah manusia (man). Menurut saya adalah lebih masuk akal menyebut Adam sebagai mahluk manusia ketimbang Adam sebagai seseorang / nama orang.

Manusia (Adam) diceritakan dalam Alquran diciptakan Tuhan berasal dari dua unsur yaitu:

  1.  Unsur Tanah. Tentunya tanah disini dimaksudkan sebagai materi / benda, sesuatu yang dapat diukur, dilihat dan dipegang. Kita sebut saja unsur jasmani / unsur materi.
  2. Unsur Roh. Suatu unsur yang kebalikan dari unsur jasmani. Roh  tidak dapat terlihat, diukur dan dipegang. Unsur ini kita sebut saja sebagai unsur rohani / unsur non materi.

Nah perpaduan jasmani dan rohani yang berbeda dimensi / zat ini dugaan saya menimbulkan adanya suatu ketidakharmonisan. Ya  ibarat mencampurkan antara air dan api. Jika airnya terlalu banyak api bisa mati, jika api terlalu banyak air bisa menguap. Dapat dikatakan juga percampuran roh dengan jasmani ini mengakibatkan hasrat (passion) dan / atau unsur akal budi manusia menjadi 2 (dua) sisi / sifat yang saling bertolak belakang, Sisi baik dan sisi jahat. Sisi baik kita sebut saja sifat malaikat (MMA menyatakannya sebagai yang mendorong ke arah hidup yang suci, higher life). Sementara sisi buruk, kita sebut sifat iblis, mendorong ke arah kesenangan dunia, kesenangan badani (MMA menyebutnya sebagai lower passion).

Keinginan / hasrat sisi buruk yang berlebihan  dapat mendorong manusia untuk makan berlebihan, menghambur-hamburkan uang, menyimpan harta sebanyak-banyaknya dengan cara apapun hingga cukup untuk tujuh keturunan, berhubungan sex secara bebas dengan siapa saja di mana bisa ditemui selama suka sama suka, mengoleksi mobil antik dan / atau barang antik sebanyak-banyaknya untuk dipajang demi kesenangan diri, atau hobi para para sultan di Baghdad tahun 1300-1500 an yang mempunyai harem (selir) hingga ratusan orang. Terlepas dari benar tidaknya, dalam Alkitab Nabi Sulaiman (Raja salomo) digambarkan beristri banyak.

Ia (Raja Salomo) mempunyai tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; istri-istrinya itu lebih menarik hatinya daripada Tuhan. (Kitab Raja-Raja Pertama 11:1-4).

Sementara adanya dominasi sifat malaikat yang berlebihan mendorong manusia menjauhi dunia karena menganggap harta / dunia laksana bangkai anjing sehingga munculah kisah para sufi yang tenggelam dalam ibadah relijus yang berlebihan melupakan kehidupan dunia, melupakan tugas manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana tersirat dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Lainnya menganggap hubungan seks sebagai perwujudan kodrat hewani sehingga (dugaan saya) munculah kaum hawariyyun (murid-murid Nabi Isa) yang memilih membujang seumur hidup, bahkan di masa Nabi Muhammad ada sekelompok sahabat yang masing-masing bersumpah satu sama lain, antara lain ada yang bersumpah tidak akan menikah dan ada yang bersumpah akan puasa terus menerus .

Catatan  Kabarnya beberapa ulama besar juga hidup membujang sampai akhir hayat, seperti Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah dan Sayyid Quthub. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah (dalam M. Anis Matta, Gairah yang Membuat Tenang, Tarbawi, Edisi 52 Th. 2003 hal. 64) menyatakan “mereka mempunyai ambisi besar kepada ilmu pengetahuan tapi juga memiliki syahwat yang kecil. Sebab kalau syahwat mereka besar, tentulah kesibukan tidak akan menghalangi mereka menikah”. Sebenarnya menurut saya bukan masalah syahwat. Sebagaimana yang pernah terjadi ke diri saya yaitu gara-gara membaca Ihya Ulummudin karya Imam Ghazali dan kumpulan Nasihat Nabi Muhammad ke Abu Dzar tanpa bimbingan, ketika itu saya menenggelamkan diri dalam ibadah sholat dan puasa (termasuk yang sunah) yang berlebihan. Saya merasa asing dengan dunia sekitar, merasa takut berbuat dosa dan ingin meninggalkan dunia ini dan bersatu dengan sang pencipta. Saya juga menganggap hubungan sex sebagai suatu “perbuatan yang rendah”, perbuatan hewani. Ketika itu saya berumur 21 tahun. Ya barangkali saja itu yang terjadi juga kepada ulama diatas. Ini hanya dugaan saya saja, bukan maksud saya menyejajarkan diri saya yang labil (soalnya masih bujangan nih) ini dengan para ulama zuhud diatas.

Sebagai mahluk yang berjazad, kita manusia suka tidak suka ditakdirkan punya kemampuan untuk makan minum, melakukan hubugan seks seperti juga kemampuan yang dimiliki hewan. Nah sisi baik dalam diri kita kadang melupakan kodrat ini sehingga menganggap keinginan diatas sebagai keinginan yang rendah sebagaimana binatang yang kita anggap tidak berakal. Jika kita bisa menerima takdir kita, sebagai mahluk berjasad maka sekiranya kita melakukan makan, minum dan hubungan seks secara sah  akan lah terasa menyenangkan, membahagiakan.

Dan aku tidak membebaskan diriku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang (Alquran 12:53).

Sejalan dengan hal ini ada hadits yang menceritakan pernyataan Nabi bahwa melakukan hubungan suami istri pun dapat pahala. Ketika para sahabat bingung dan bertanya “kok bisa-bisanya hubungan suami istri dapat pahala?” Nabi balik bertanya bukankah kalau kalian berzina, maka  kalian mendapat hukuman dan dosa? Jadi sebaliknya, kalau kalian melakukanya secara sah berarti dapat pahala bukan?

Kembali ke pokok masalah, Ketika manusia mendapatkan perintah Tuhan maka sisi baik akan menjawab samina wa athona (kami mendengar dan kami taat) sedangkan sisi buruk akan menjawab samina wa ashoina (kami mendengar dan kami menolak untuk taat). Seseorang sedang yang melakukan kebaikan artinya sifat malaikat mendominasi sifat iblis. Orang itu akan melakukan perbuatan baik seperti sholat, bersedekah  dll. Yang termasuk sisi baik / sifat malaikat antara lain: ketaatan, sabar, tidak putus asa, adil, hemat, penyayang, dapat dipercaya dan sejenisnya. Sementara seseorang yang melakukan kejahatan artinya sifat iblis mendominasi sifat malaikat. Sisi buruk / sifat iblis mewakili juga perasaan negatif seperti: takut, putus asa, marah, ketidakpatuhan, boros, tidak adil dan sejenisnya.

Perlu anda pahami hal ini pun terjadi juga pada para Nabi. Dalam Alquran diceritakan antara lain:
· Suatu ketika para rasul menjadi putus asa dengan pertolongan Allah karena tekanan musuh / cobaan yang begitu dahsyat (QS 2:214) .
· Suatu ketika Nabi Yunus meninggalkan orang-orang yang harus didakwahi, lalai dari tugas karena ketidaksabaran (QS 21:87).
· Suatu ketika Nabi Daud tergoda hatinya dengan istri orang lain (QS 38:17-24). 
· Nabi Musa menjadi kecewa dan marah akibat kaumnya yang durhaka (QS 7:150).
· Nabi Muhammad bermuka masam dan mengabaikan seorang buta yang minta diajarkan tentang Islam ketika Nabi Muhammad sedang mencoba membujuk para pembesar Quraisy (QS 80:1-11).

Dalam Injil pun diceritakan hal yang serupa:
· Nabi Daud berzina dengan istri salah satu rakyatnya (Samuel Kedua  11:2-5)
· Ketika Yesus (Nabi Isa) lapar dan mencoba mencari buah Ara tapi ia menjumpai bahwa pohon Ara tersebut tidak berbuah, karena  memang bukan musimnya, namun ia menjadi marah dan mengutuk pohon itu hingga pohon itu mati (Markus 11:12-20 dan Matius 21:18-19).

Komentar : Saya paling jengkel kalau membaca buku yang isinya membahas apakah seorang Nabi itu punya dosa ataukah tidak (sinless)? Menurut saya hal semacam itu tidak perlu dibahas. Nabi haruslah diukur dari hasil kerjanya. Apakah misinya berhasil ataukah tidak?

Nah ilustrasi atas hal-hal diatas dalam Alquran diceritakan dalam suatu kisah perumpamaan seperti kepatuhan malaikat yang melambangkan sisi baik dari hati manusia  dan penolakan iblis ketika diperintah Tuhan untuk sujud ke Adam yang melambangkan sisi buruk dari hati manusia. Ya memang, selama ini kita selalu menganggap kisah dialog yang melibatkan “4 subyek”, Tuhan, Malaikat, Adam dan Iblis sebagai suatu kisah yang pernah benar-benar terjadi. Kisah-kisah diatas hanyalah salah satu ayat perumpamanan sebagaimana diterangkan Alquran:

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang berpengetahuan (QS 29:43).

Memang uraian diatas akan membawa kita kepada sebuah pertanyaan “kenapa tidak dari awal Tuhan memberitahukan semua itu lewat kitab suci dalam uraian yang langsung kepada sasaran bahwa setan itu sebenarnya ada didalam diri kita bukan di luar kita?” Saya punya dugaan begini, adalah lebih mudah mempersatukan umat jika umat mempunyai musuh bersama yang ada diluar tubuh kita yaitu iblis yang pembangkang itu.

Oleh karenanya dalam Alquran yang diceritakan adalah kisah dialog yang melibatkan Tuhan, Adam, Iblis dan Malaikat. Ini adalah skenario yang sangat jenius, jika anda paham apa yang saya maksudkan.

Update 27/11/2007: Kenapa jenius? Karena buat sebagian orang adalah lebih mudah untuk “diberitahu”/lebih mudah mengerti bahwa “setan/iblis” ada di dalam luar tubuh. Sekiranya diberitahu bahwa “iblis” justru ada di dalam tubuh mereka, belum tentu mereka dapat paham, malah menjadi bingung. Jadi tidak apa-apa bila anda “lebih sreg” meyakini setan/iblis ada di luar tubuh anda. Setan/iblis sebagai sifat atau sebagai mahluk bukanlah masalah yang perlu diperdebatkan, karena kedua hal tsb sama-sama ciptaan Tuhan.

Dengan kalimat lain (yang lebih luas) mungkin sebagaimana yang dikemukakan Polybius berikut ini (dikutip dalam terjemahan buku Kontroversi Kenabian Dalam Islam: Antara Filsafat dan Ortodoksi  karya Fazlur Rahman):

Namun karena orang-orang awam adalah orang yang tidak punya pikiran dan penuh dengan dorongan-dorongan yang bertentangan dengan hukum, seperti rasa marah yang tak rasional dan kecenderungan-kecenderungan yang agresif, tidak  ada satu yang dapat mengendalikan mereka kecuali rasa takut terhadap yang gaib.

Sumber: Irwan Ghailan, Buklu  ” Salah Paham Tentang Setan, Jin, Roh, Hantu dan Sihir”, Jakarta, 2004

Kategori: opini
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

10 tanggapan so far ↓

  • Apa tujuan Tuhan menciptakan kisah Pembangkangan Iblis dalam Al Quran? « setan, jin dan hantu ….. hanya imajinasi! // Nopember 25, 2007 pada 8:15 pm

    [...] ← Perbedaan Mahluk Halus dengan Atom (Elektron) Penafsiran Saya Mengenai Iblis [...]

  • Pendapat Maulana Muhammad Ali dan Jeffrey Lang Mengenai Iblis « setan, jin dan hantu ….. hanya imajinasi! // Nopember 26, 2007 pada 8:15 am

    [...] Pemesanan Buku ← Penafsiran Saya Mengenai Iblis [...]

  • RH // Desember 19, 2007 pada 12:47 pm

    Kenapa anda seenaknya melibatkan ilmu manusia dalam hal ini??

    IRW: lho siapa yang melarang??? Ada larangan??? Sejak kapan

    Apakah otak yang anda miliki benar-benar sama hebatnya dengan otak Tuhan?

    iRW: Tuhan bukan mahluk, jadi menyebut otak Tuhan menurut saya tidak pada tempatnya

    Jika memang begitu, bisakah anda membuat manusia dari daging? Jika memang tidak ada unsur rohani dalam diri manusia, pastilah para ilmuwan bisa seenaknya mebuat manusia. Siapa anda sebenarnya? Apakah anda Atheis yang mencoba-coba memahami konsep TUHAN? Itu sama halnya dengan ahli biologi mencoba menerangkan konsep dasar bahasa inggris. Anda itu hanya orang sok tahu yang yang tidak tahu apa-apa tapi mencari popularitas dengan sesuatu hal yang sama sekali tidak anda ketahui.

    iRW: anda ini kenapa sih? Kayaknya tidak biasa diskusi ya?

    Dengar, angin itu tak terlihat, tapi ada. Rasa sakit itu tak terlihat, tapi ada. Lalu, kenapa anda menganggap seolah-olah rohani itu tidak ada?

    iRW: Lho angin kan bisa di amati, saya lupa alat pengukur kecepatan angin. terus layang-layang kan bisa naik karena ada angin

    Bagaimana anda menerangkan tentang rasa takut, rasa marah, rasa senang dan sebagainya? Apakah seonggok daging dipasar itu akan bilang “aduh” ketika dipotong? Tidak, karena mereka sudah mati. Lalu bagaimana anda menerangkan tentang konsep kematian? Bukankah anda menganggap roh itu tidak bisa bergabung? Lalu, kenapa tidak ada satupun teknologi yang bisa mengidupkan orang mati kembali seperti sediakala jika memang tidak butuh Roh.

    iRW: anda membahas yang mana sih?

    Saya harap, anda mengkaji ulang pernyataan anda wahai penulis… Jika anda atheis, jangan pernah membahas konsep ketuhanan dan hal gaib dari sudut pandang anda. Dan jangan pernah anda mengkaji Al’quran jika anda hanya mencari kelemahannya. Sungguh, suatu hari nanti anda akan menyesal pernah menyebarluaskan pernyataan ini. Dan sungguh, anda akan berharap untuk dimaafkan oleh ALLAH SWT.

    iRW: anda bukan si Ratu Adil kan? Tulisan anda tidak membahas ke masalah yang saya tulis. Anda sok membelas-bela Al Quran, padahal yang anda tulis “kosong”….

  • sofyan // Desember 24, 2007 pada 9:22 pm

    penulis tidak bisa sembarangan berkomunikasi dengan orang2 yang tingkatannya hanya pintar membaca ayat2 dalam wahuyu Illlahi, karena dia tidak sadar bahwa ada sabda rossul Muhhamad saw yang menyatakan CELAKALAH UMATKU YANG HANYA HOBBY MEMBACA TETAPI TIDAK HOBBY BERPIKIR , ( mungkin inilah golongan orang2 yang samin ) , tapi waspadalah bahwa ada ayat yang memang tidak bisa ditembus oleh cara berpikir otak kita, dan itu adalah Istihad kita sebagai sarana kita unutk mendekatkan diri kepada sang pencipta, maka itulah yang dinamakan ilmu laduni yaitu ilmu kebenaran dari Illahi yang hanya diperuntukan untuk pribadi masing2 atas kebijaksanaan Illahi pula, makanya dari konsep itulah pula yang membedakan antara NABI dengan ROSSUL, maka hati2lah wahai para pencari Tuhan, kalau saudara tidak atau belum bisa mengartikan antara GURU SEJATI dengan SEJATINYA GURU, atau sauadara belum bisa mengerti dan menguraikan kalimat “KALAU KAMU PENGIN MENGENAL TUHANMU LEBIH DEKAT MAKA KENALi lah DIRIMU SENDIRI” maka jangan coba2 terjun kedunia Bathiniah, Karena batiniah yang berada di dalam diri setiap manusia yang paling rahasia dan paling dalam adalah tempat bersemayamnya cahaya Illahi atau lebih gampang dan keren di sebut adalah Tahta Illahi, coba saya pengin tahu apakah saudara atau siapa diri saudara…, apakah saudara bisa memahami, mengetahui, merasakan dan menerangkan adanya ROH/RUH, JIWA,RAGA,NYAWA,SUKMA,NUR CAHAYA,SIFAT,SIKAP,PENCIUMAN,PENDENGARAN DAN INDERA PERASA yang menyatu dan mengukuhkan sosok yang di sebut manusia…,yang dimuliakan : yang bagaimana…?,seperti apa….?

  • vito // Desember 25, 2007 pada 7:44 pm

    semoga anda tetap dalam lindungan Allah.
    izinkan sedikit mengomentari tulisan anda ….SIAPAKAH YANG MENGETAHUI KETIKA ANDA BERMIMPI DALAM TIDUR ANDA?
    mohon dijawab biar diskusi ini bisa berlanjut.

    iRW: tentu saja Allah, apa hubungannya dengan tulisan saya mengenai iblis?

  • jadisatu // Desember 26, 2007 pada 4:26 pm

    hehehehe….
    mantap kang, berfikir aja terus……
    hanya orang2 yang berfikir yang mendapatkan petunjuk. (syaratnya harus berperasangka baik terhadap yang gaib & yang nyata)

  • npherryanto // Januari 7, 2008 pada 4:51 pm

    wah…bung irw dapet jab beruntun nih

    Jangan mudur bung..pasng double cover sambil lepas upper cut.

    Makasih ma bung sofyan yg da bilang CELAKALAH UMATKU YANG HANYA HOBBY MEMBACA TETAPI TIDAK HOBBY BERPIKIR. Memang teks bukan sekedar untuk dibaca tapi untuk dipikirkan.

    Selamat berpikir merdeka…

  • schizoparnoa // Maret 18, 2008 pada 10:02 pm

    ijin menyimak ah, …….

  • helmiyahya // April 2, 2008 pada 9:08 am

    kok jadi tidak fokus ya, tapi topiknya memang kurang ada urgensinya dalam kehidupan maupun keimanan kami. Cukup menarik utk disimak

  • lingkarluar // Oktober 22, 2008 pada 12:05 pm

    Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang berpengetahuan (QS 29:43).

    Apakah Anda yang dimaksudkan Tuhan dengan ORANG YANG BERPENGETAHUAN sehingga menafsiri sendiri semaunya Anda? Kalau Anda bisa membuktikan bahwa Andalah yang dimaksudkan. Akan saya cium telapak kaki anda dan aku akan menjadi pengikut setia sampai selama-lamanya.

    IRW: berpengetahuan kan artinya mengetahui. dalam konteks tulisan saya, tentu saja saya mengetahui bahwa Iblis ada di dalam hati manusia, bukan di luar. iblis adalah sifat bukan mahluk. Terus hubungannya apa dengan niat anda mau cium kaki? dalam diskusi yang diperlukan cara berpikir, bukan hal lain. kalau buat anda tulisan saya terlalu sulit dimengerti ya sudah, tetap saja anda hidup dengan menganggap ada iblis di luar anda yang selalu “mengawasi” anda. pengetahuan bisa datang karena suka bertanya dari orang lain atau suka membaca buku. dengan pengetahuan yang saya punya saya mencoba menganalisis mengenai iblis dan lain-lain. begitu kan?

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.