Penafsiran yang Keliru atas Surat 67 Ayat 5 (Bintang/Meteor di Langit bukanlah Alat Pengusir Setan)

Setelah saya kutipkan penjelasan mengenai jin versi buku Maulana Muhammad Ali (MMA), berikut ini saya kemukakan pendapat MMA lainnya. Penjelasan yang juga super jenius untuk menghapuskan kesalahpahaman kita selama ini akan panah berapi yang digunakan untuk mengusir setan-setan yang mencuri dengar berita dari langit. Sebagai informasi untuk anda, dalam terjemahan Alquran versi Departemen Agama Republik Indonesia tertulis bahwa Tuhan menghiasi langit dengan bintang–bintang yang berfungsi sebagai alat pelempar setan.

Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang  dan kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan dan kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (surat 67:5).  

Dan sesungguhnya kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan kami telah menghiasi langit itu bagi orang yang memandangnya. Dan kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri dengar (di langit) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (QS: 15:16-18).

a. Pendapat Maulana Muhammad Ali

Adanya cerita bahwa jin / setan mencuri-curi dengar rahasia langit timbul sebagai akibat dari kesalahpahaman dari kata-kata tertentu, terutama kata shaitan dan rajm. Kata setan / jin sebagaimana telah dibahas telah diakui oleh para ahli digunakan sebagai sebutan bagi pemimpin kaum munafik / orang-orang yang memusuhi Nabi Muhammad “dan ketika mereka menyendiri bersama  setan-setan (pemimpin) mereka, mereka berkata kami adalah pengikut kalian “(Alquran 2:14). Semua penafsir Alquran menyetujui bahwa kata “by their devils” maksudnya adalah pemimpin mereka dalam kekafiran. Oposisi ke Nabi Muhammad timbul dari dua lapisan, dalam hal politik dan dalam hal kepercayaan / perdukunan (kahin). Mudahnya begini, munculnya Islam berarti kematian bagi semua kepercayaan / tahayul, dan mengingat keberadaan perdukunan adalah salah satu tahayul terbesar, para dukun itu tentu matia-matian melawan Nabi.

Penjelasan Para dukun itu biasa mendapat kedudukan terhormat termasuk juga harta dari para penganut mereka, yaitu sebagian besar penduduk Mekkah. Sebagian penduduk Mekkah yang Islam tentunya tidak lagi percaya dengan perdukunan karena Islam mengajarkan bahwa perdukunan adalah dusta. Ini berarti berkuranglah harta dan tingkat penghormatan yang  selama ini dinikmati para dukun ini bukan? Dalam buku-buku yang ada setahu saya kurang membahas permusuhan para dukun ini kepada Nabi Muhammad.

Para dukun ini menipu orang-orang melalui pernyataan / pidato dengan meramalkan Nabi Muhammad akan segera mati. Seperti halnya pemimpin dunia politik (yaitu orang-orang munafik), para dukun ini disebut Quran juga sebagai setan, karena mereka pun menyesatkan orang-orang dari kehidupan.

Kata Arab lain yang disalahpahamkan adalah rajam (digunakan dalam hubungan dengan setan-setan atau para dukun. Rajm tidak diragukan lagi berarti melempar batu (merajam), tapi ini juga digunakan untuk menunjukan ramalan (zann), tahayul (tawahhum), menghina atau mengusir (Al-Mufridat fi Gharibi-l-Quran, of Imam Abu-l-Qasim al-Husain ibn Abu-l-Fadzl al-Raghib). Kata rajm yang berarti ramalan misalnya di 18:22 “membuat ramalan atas apa yang tidak diketahui” dan berarti menghina dalam 19:46 dalam kata la –arjumanna-ka yang diterjemahkan sebagai “Saya akan mengatakan kepadamu dalam kalimat yang tidak kamu sukai”. Dan ditambahkan bahwa setan atau iblis disebut rajm, oleh sebab “dia diusir Tuhan dari tempat yang mulia / Surga (Mala’al-a’la).

Dua kata yang diterangkan di atas  rajm dan shaitan mucul di ayat berikut: dan kami telah menghiasi langit yang dekat dengan cahaya / bintang dan menjadikannya sebagai rujum-an l-l-shayatin,” dimana diterjemahkan secara salah sebagai pelempar untuk para setan / jin. Seharusnya itu diterjemahkan sebagai ramalan untuk setan / kahin, yaitu para dukun dan ahli perbintangan. Bukti berikut diterima oleh ahli terbaik “kami menjadikan cahaya / bintang sebagai alat ramalan untuk manusia setan yaitu ahli ramalan  bintang” (Lane’s Arabic English Lexicon, Taj al-Arus, oleh Abu-l-Faidz Sayyid Muhammad Murtadza al-Husaini). Komentator  yang lain menyatakan “bahwa artinya adalah kami menjadikannya sehingga manusia-manusia setan (astrologer) membuat ramalan darinya”. Ibnu Athir memberikan penjelasan berikut: “ seperti dikatakan by rujum artinya ramalan yang dibuat, dan apa yang ahli ramalan bintang ramalkan yang ditafsirkan dari kombinasi bintang-bintang dan peredarannya, inilah yang disebut sebagai mereka adalah setan, mereka setan-setan dari jenis manusia.

Dan dinyatakan dalam beberapa hadist bahwa siapapun yang mempelajari astrologi atau perdukunan, dan tukang ramal itu adalah kahin dan kahin itu adalah tahayul dan tahayul itu seorang yang tidak beriman, maka tukang ramal yang menyatakan memperoleh pengetahuan tentang bintang untuk meramalkan kejadian masa depan dan menjadikannya sebagai rujukan mana yang baik dan mana yang buruk, dinamakan sebagai kafir.

Ayat Alquran yang mengutuk praktek perdukunan telah disalahartikan dimana beberapa penafsir menyebut bintang-bintang diciptakan sebagai pelempar untuk setan-setan (jin) yang naik ke langit. Referensi untuk topik ini terkandung dalam dua tempat yang lain dalam Alquran:

“Sesungguhnya kami telah menghias langi yang terdekat dengan hiasan yaitu bintang-bintang, dan telah (dipelihara) dari setan-setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal. Akan tetapi bagi mereka yang berhasil mencuri (pembicaraan) maka ia segera dikejar oleh suluh api yang cemerlang (QS 37:6-10)

“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan kami telah menghiasi langit itu bagi orang yang memandangnya. Dan kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri dengar (di langit) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (Alquran: “ 15:16-18)

Catatan kaki:     Bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai “brightly shining flame” adalah shihab dan thaqib. Yang pertama mempunyai arti api yang menyala (Lane’s Arabic English Lexicon, bandingkan dengan surat 27 ayat 7 dimana Nabi Musa diceritakan membawa sebuah obor (api yang menyala); sementara yang thaqib mempunyai arti menerangi kegelapan atau terang benderang (Lane’s Arabic English Lexicon) – maksudnya adalah dusta para dukun itu lenyap setelah datangnya Islam  seperti kegelapan yang hilang terkena cahaya (Nur Islam) yang benderang.

Dalam kedua kejadian itu, prinsipnya sekali lagi dinyatakan  secara tegas bahwa para tukang ramal dan dukun tidak punya akses ke langit atau bintang dimana mereka mendasarkan ramalan mereka; dan mereka juga yang disebut sebagai setan terkutuk  (rebellious devils) “mereka tidak dapat mendengar berita dari langit.“ tapi kita juga diberitahu bahwa “mereka berusaha mendekati langit dari semua sisi, tapi kemudian diusir, yaitu pernyataan mereka tidak memberikan penghormatan ke mereka dan mereka berulang-ulang mendekati oleh karena yang mereka nyatakan tidak benar dan oleh karenanya mereka hidup dalam penderitaan yang berkepanjangan. Namun ada pengecualian sekali-kali ramalan mereka benar. Arti snactching away (mengambil) dari para tukang ramal ini, setelah dikatakan bahwa mereka berulang-ulang mendekati dari semua sisi dan diusir, secara jelas tidak berarti apapun kecuali bahwa terkadang ramalan mereka menjadi benar. Ide yang sama sebagaimana dinyatakan dalam ayat kedua dengan kata “dia yang mencuri dengar”. Tentu saja bukan berati bahwa rahasia langit seolah-olah didiskusikan secara terbuka di langit sehingga setan yang bersembunyi dapat mendengarnya. Pewahyuan dari langit sebagaimana ditafsirkan oleh para ahli adalah melalui lubuk hati Nabi Muhammad sehinga tidak mungkin terjadinya pengupingan dalam proses pewahyuan ini. Ini juga ditegaskan oleh para ahli bahwa setan-setan tidak dapat naik kelangit, sehingga mereka tidak punya akses ke rahasia langit. Jadi agak menggelikan adanya kepercayaan kita selama ini bahwa setan-setan dapat mendengar rahasia langit. Yang benar adalah dalam kedua ayat diatas, yang dibicarakan adalah para dukun dan para peramal bintang. Para tukang ramal terkadang berhasil meramalkan dan ini dimaksudkan bahwa ramalan kadang menjadi benar, nyala api yang mengikuti artinya kegagalan yang menyusulinya dan kekecewaan karena munculnya Islam yang menghancurkan kepercayan terhadap para tukang ramal di masyarakat. Penggambaran atas kebenaran spiritual dalam konsep hukum fisika yang umum di dunia juga ada dalam kisah di Alquran; dan bahwa ini adalah kenyataan bahwa kegelapan tahayul yang ditimbulkan oleh para tukang ramal dihancurkan oleh cahaya Islam sehingga Islam dikatakan sebagai api atas kumpulan sekam (jerami) yang berupa tahayul

Komentar:  Di dalam buku terjemahan Bible, Alquran dan Sains Modern cet 14 tahun 2001 halaman 188,  karya Maurice Bucaille, juga terdapat terjemahan bahwa bintang-bintang digunakan sebagai pengusir setan. Khusus mengenai ramalan bintang saya punya penafsiran sendiri, dapat dilihat di lampiran. Ngomong-ngomong, saya baca sekilas di situs “anti Islam” (www.answeiring-islam.org) bahwa Maurice Bucaille yang dipuja-puja ini belum masuk Islam. Jujur saja saya kaget.

About these ads

19 responses to “Penafsiran yang Keliru atas Surat 67 Ayat 5 (Bintang/Meteor di Langit bukanlah Alat Pengusir Setan)

  1. Thank’s banget, Mas atas buah pikiran Anda. Kutunggu artikel lainnya.

  2. saudara bisa dan dengan yakin menerangkan bahwa yang namanya kitab itu adalah didalamnya ada kitab lagi dan yang namanya ayat didalam kitab itu adalah juga terdapat ayat lagi, yang saya pernah dengar adalah barang siapa yang bisa menerangkan adanya ayat dalam ayat dan adanya kitab dalam kitab dia adalah seorang yang tidak sembarangan…., karena yang menurut yang saya dengar lagi bahwa orang yang bisa menerangkan hal tersebut dari tiap huruf,tiap kata dan tiap kalimat serta tiap kiasan dan perumpamaan2 dalam Wahyu Illahi adalah Syuhada Jaman ( yaitu orang yang di sebut sebut dan di cari cari setiap orang yang merindukan sang juru penerang di jaman yang sudah menuju kegelapan ini atau dialah yang disebut2 sebagai imam mahdi ) karena memang benar adanya bahwa nabi penutup s/d akhir jaman adalah nabi Muhhamad saw ) dan ajaran yang di bawa oleh syuhada jaman adalah bersumber kepada Louwhull Mafhfud (yaitu kitab induk yang ada di atas langit) dia adalah penerang dari orang2 yang salah kaprah salah tafsir dan orang2 samin(orang yang membenarkan pendapatnya sendiri), dan besok di jaman yang sama pula muncullah ajaran Dajjal, yang mana ajarannya hampir mirip atau serupa tapi tak sama, ibarat rel kereta api maka yang mana rell yang satu menuju “NERAKA”dan rell yang lain menuju “SURGA”, hanya orang2yang terpilih lah yang bisa bertemu dengan SYUHADA JAMAN, yaitu orang2 yang memang sudah di sekenariokan oleh Illahi Rabbi, mudah2an saudara adalah bagian dari sekenario Tuhan sang Illah

    iRW: terus hub dengan isi tulisan saya apa ya?

  3. ah…. loe pada goblok semua ya.. !! yang semesti loe sanjung bukan Islam tapi Ilmu pengetuhuan tentang alam dan semesta alam !!. Islam itu (alquran ) hanya jiplak2 dari kitab-kitab yg sdh ada sebelumnya, lalu ada lalu ada koreksi2 sesuai dengan pengangatan berikutnya !! untuk aja islam belum bisa naik ke Angka Luar ! kalau islam dapat ke angkas luar .. wah makin gede aja omongan loe ttg Islam ! loe terima atau tidak tehnologi itu banyak ketemukan oleh orang barat (umumnya kristen) ! termasuk fasilitas web ini. wah… loe sok tahu aja … goblok !!!

  4. kalau loe nggak percaya ama setan atau jin !! ya.. ya berarti loe nggak ada yang ganggu ! loe nggak usah minta tolong ama Tuhan !! Setan dan jin itu juga di ciptakan oleh Tuhan. untuk sebagai perusak atau pengembali dari asal mulanya ! ” dari yg tidak ada menjadi ada kemudian kembali menjadi tidak ada” dan terusnya.. ! .. ah..jangan2 loe yg jadi setan atau jin .. shg loe nggak lihat ada setan jin lainya !! .. dasar sok tahu aja loe..!! heran gue… !!

  5. Kalau loe katakan bahwa Setan, Jin dan Hantu hanyalah imajinasi. ! berati TUHAN (allah) berati juga hanya sebagai imajinasi aja !! ah.. loe sok tahu .. tapi nggak ngerti hukum alam !! ini hukum alam bung !! ada setan, Jin dll ya pasti ada pembenar/pembela (Tuhan). ada Tuhan pasti ada Hantu.. krn hantu/setan/jin itu dicipatakan oleh Tuhan ! itu sdh hukum alam bung. pelajari ttg energi positif dan negatif. Loe manusia mentah kayak gini, ngomong tentang ketuhananan !! loe lakukan mati raga dulu.. agar arwah kamu mengajari kamu tentang ketuhanan.. nah loe baru bakalan ngerti tentang alam roh, alam kesucian, alam keheningan .. nah loe baru bakal ngerti dengan TUHAN.,JIN , SETAN dan lain sebagainya !!

    iRW: baca dulu tulisan-tulisan lain di blog ini …. saya sudah berusaha membahas Tuhan & Jin secara lengkap

  6. woi mutofa yang sok pinter persis seperti jin dan setan. sesungguhnya sebagian besar umat muslim itu tidak berminat untuk ke luar angkasa. jadi saya sebagai umat muslim tidak butuh ke luar angkasa. yang saya butuhkan adalah dekat kepada allah. tidak seperti km mutofa yang menuhankan teknologi. sesungguhnya km adalah kafir,,,,!!!!!!!!!

  7. dan satu hal yang perlu kamu ingat mutofa, web ini di ciptakan bukan semata-mata ilmu dari orang barat atau orang kristen, akan tetapi web ini bisa di ciptakan atas dasar ijin dari sang pencipta,,,,. jadi yang menciptakan web ini adalah tuhan itu sendiri melalui orang2 yang lupa akan kehidupan setelah dunia sebagai coba’an.

  8. Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam muqadimah kitab tafsirnya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur’an. Beliau -rahimahullah- menyampaikan bahwa cara menafsirkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

    iRW: kenapa anda percaya kalau hanya empat cara di bawah ini yang dibolehkan untuk menafsirkan Al Quran? Dan menyuruh saya ikut percaya bahwa hanya empat cara ini yang diperbolehkan dalam menafsirkan Al Quran? Memangnya Ibnu Katsir ini juga menguasai iptek jaman sekarang? Tahu apa beliau tentang meteor? asteroid? Apa buku/karya beliau yang membahas meteor, bintang, matahari? begini ya rekan-rekan, orang hapal A Quran bukan berarti dia logic bukan berarti dia terdidik. hafal Al Quran hanyalah masalah kebiasaan, ya meskipun itu adalah kebiasaan/perbuatan yang mulia

    1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Metodologi ini merupakan yang paling shalih (valid) dalam menafsirkan Al-Qur’an.

    2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah. Kata beliau -rahmahullah-, bahwa As-Sunnah merupakan pensyarah dan yang menjelaskan tentang menjelaskan tentang Al-Qur’an. Untuk hal ini beliau -rahimahullah- mengutip pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- : “Setiap yang dihukumi Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka pemahamannya berasal dari Al-Qur’an. Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) membela orang-orang yang khianat.” (An-Nisaa’:105)

    3. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan para shahabat. Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah- : “Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para shahabat, karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi, yang secara khusus mereka menyaksikannya. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sempurna, strata keilmuan yang shahih (valid), perbuatan atau amal yang shaleh tidak membedakan diantara mereka, apakah mereka termasuk kalangan ulama dan tokoh, seperti khalifah Ar-Rasyidin yang empat atau para Imam yang memberi petunjuk, seperti Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu anhu-.

    4. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman yang dimiliki oleh para Tabi’in (murid-murid para shahabat). Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah atau pernyataan shahabat, maka banyak dari kalangan imam merujuk pernyataan-pernyataan para tabi’in, seperti Mujahid, Said bin Jubeir. Sufyan At-Tsauri berkata : “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan”.

    Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam-:

    “Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).

    lalu dengan apa antum menafsirkan al qur’an? dengan ra’yu?

    iRW: coba anda baca awal tulisan saya …. yang menyatakan bintang bukan alat pengusir setan adalah pendapat MMA, saya adalah pembaca buku MMA. dan buat saya ini penafsiran MMA lebih dapat diterima dari penafsiran ulama lainnya yang kuper!
    (*kuper dalam hal mengenai meteor, bintang dan matahari/galaxy)
    Anyway thanks for comment

  9. islam agama yang universal, agama yang logis, bagi saya buah pikiran anda sangat bermanfaat dan sangat membantu untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang isinya tidak mengada ada, yang artinya umat islam dituntut untuk lebih logis dalam menafsirkan dan mengamalkan isi Al Qur’an, karena Tuhan mencintai umatnya yang pandai (berilmu pengetahuan), dan karena isi dari Al Qur’an tidak akan pernah bertentangan dengan perubahan jaman karena itu manusia2nyalah yang harus pintar….. salut…. penafsiran yang cerdas……..

  10. PENGALAMAN spiritual PRIBADI SAYA YANG saat ini SAYA BERUSIA 45 TAHUN, rasanya aneh: kalau ajaran tentang KETUHANAN dapat disama ratakan dan ditulis, namun untuk menpermudah dalam kehidupan dalam membentuk AKHLAK MANUSIA mungkin lebih pas dengan adanya agama “apapun agamanya” yang memiliki pemahaman masing-masing.

    Coba diteliti dengan seksama salah satu isi KITAB “judulnya kalau diterjemahkan SAPI BETINA” tapi isinya jauh dari sapi alias gak singkron, karena tidak semua manusia dapat mengartikan WANGSIT/SASMITO/WAHYU yang diterimanya, disinilah philasafat orang JAWA memiliki kelebihan dengan ILMU TITEN.

    SULIT DITERUSKAN pengalaman spiritual saya, aGAMA adalah ajaran baik itu saja yang pahami, buat om ARDHI7 logisnya dimana? coba dipahami secara berurutan seraya menjalankan puasa minimal 40 hari “cuma sekali makan + minum dalam sehari sehabis maghrib” => INSTUISI anda akan sangat tajam, dan mungkin anda juga merasa takut karena dapat menangkap gambaran sebelum kejadian,

    Salam Haji Rudyono

  11. Walah.. Pantesan ajah semua tulisannya berbau2 Ahmadiyah.. Gw udah curiga dari Awal.. Lha wong referensinya ajah Maulana Muhammad Ali yang notabene penganut Ahmadiyah Lahore.. Ya udah lah silahkan Anda berpendapat, nanti kalo diterusin ujung2 nya jadi debat ke yang laen, termasuk status Mirza Gulam Ahmad

  12. Mas Rudyono…….

    Kalo dilihat memang benar apa yang di comment oleh Mas, Surat Al-Baqoroh atau disebut Sapi betina sepintas lalu bila dilihat tidak ada hubungan dengan isi surat tsb, tapi konteks dari surat tsb adalah menceritakan kahlaq prilaku perbuatan suatu kaum dengan memfitnah kaum yang lain, dimana setelah terjadi pertikaian, pembuktiannya adalah dengan menggunakan bagian tubuh sapi betina yang dipukul kan kepada orang yang telah mati, maka orang yang mati tsb hidup lagi dan dapat berbicara serta menerangkan siapa yang membunuhnya.

    Mengapa harus sapi betina ?,…yah inilah petunjuk Tuhan yang harus difahami, dimana sapi betina adalah binatang yang tak pernah disembelih untuk apapun kecuali dia sakit atau mati.

    Sapi betina selalu diambil air susu nya atau sebagai induk yang menurunkan generasi selanjutnya, dalam perkembang biakan.

    Coba fahami oleh semuanya, betapa banyak syarat yang harus terpenuhi oleh Sapi betina tsb ats wahyu illahi , mulai dari kemulusan tubuh sapi nya tanpa cacat, kulit yang putih ke kuning- kuningan, usia sapi dll.

    Sebenarnya banyak dan erat sekali hubungan Judul suatru surat Aluqr’an, dengan isinya, karena judul tsb adalah merupakan substansi dari surat tsb, yang bisa dipelajari melalui Tarikh Alqur’an, Akhlaq, fiqih, juga Tauhid nya.

    Ini adalah merupakan dasar pelajaran yang utama dalam pemahaman secara aqal fikiran dan logika selain dengan cara bathiniyah, sebab bathiniyah sebagai power utama yang akan mengendalikan kemampuan aqal fikiran dalam memahami penafsiran yang sebenarnya, juga membutuhkan kemampuan aqal fikiran dalam asumsi ilmu pengetahuan, demikian sebaliknya.

    Alqur’an memang bisa ditafsirkan dengan apapun disiplin pengetahuan, karena Alqur’an adalah sumber Ilmu pengetahuan. Artinya menafsirkan Alqur’an dengan ilmu dari Alqur’an juga, baik tata bahasa, nahwu sharaf, balaghoh, mantiq dll, adalah lat dan referensi untuk membedah Alqur’an.

    Demikian pula tafsir suatu ayat bukanlah satu-satu nya kebenaran yang mutlaq untuk dijadikan patokan yang absolut hingga waktu-waktu selanjutnya.

    Sebab para ahli tafsirpun masih banyak yang berbeda terutama pada ayat mustsyabihat dan Muhkamat.

    Dan yang sangat perlu di ingat bahwa Alqur’an adalah “Mu’jizat hingga Akhir zaman”, jadi pada waktu-2 dan zaman berikutnya Alquran masih terus mengeluarakan kandungan nya dan bukti-2 kebenarannya hingg akhir zaman. Dimana pada zaman-2 berikutnya kita sudah tak berada lagi disana kecuali anak cucu kita.

    So…kebenaran itu relatif sesuai dengan perkembangan aqal dan fikiran manusia dalam menafsirkan Alqur’an sebagai hudan/petunjuk jalan hidupnya, pada masa tsb.

    Untuk selanjutnya Alquran akan mengeluarkan bukti-bukti kbenaran dimana kita bukanlah penduduk dan berada pada zaman itu yang sudah tidak sesuai dengan aqal fikiran kita saat ini.

    Dan marilah kita persiapkan generasi kita yang akan hidup di zaman yang lebih aneh dan sulit dari zaman sekarang dengan mengembangkan methode pendidikan yang universal mencakup aqal fikiran dan bathiniyah yang kuat sehingga mencapai kecerdasannya (Fathonah).

    Sebab hanya dengan “kecerdasan” (sifat Fathonah), maka manusia akan mampu memahami kehidupan, baik lahir dan bathin.

    Itulah mengapa manusia dilengkapi oleh Tuhan dengan berbagai komponen yang sangat hebat dan lengap, melebihi makhluq lainnya. Tak lain agar manusia mampu belajar, befikir dan bertindak, sesuai tuntunan Alqur’an.

    Sebagaimana Rsulullah saw, bagai Alqur’an yanga berjalan.

  13. To Olads: Tolong jangan biasakan komentar ngalor ngidul …

    langsung saja anda beri komentar pendapat MMA di atas …

  14. Trims koreksinya,

    Mohon maaf bila kurang berkenan, semoga saya bisa memperbaiki.

  15. Menafsirkan Alqur’an selain menggunakan referensi tarikh(sejarah), asbabun nuzul, demikian pula penguasaan tata bahasa Alqur’an, ilmu : nahwu sharaf, balaghah, ma’ani, bayan, badi, mantiq, klafisikasi ayat mustasyabihat, muhkamat.

    Semua itu akan menghasilkan berbagai perbedaan pemahaman, dan bukanlah merupakan satu-satu nya kebenaran mutlaq, nama nya juga tafsir, ta’wil, yaitu kebenaran yang relatif, bukan haqiki(kebenaran yang sebenar benar nya dari Allah)

  16. @ mustofa : loe pasti g pernah baca sjarah! bangsa barat bisa semaju ini karena mereka belajar dari orang Islam abad petngahan!
    loe bilang qur’an penuh dengan koreksi2? al-qur’an “dikoreksi” namun isi qur’an itu tdk pernah berubah.

    @ smua yg tdk setuju dgn pendapat MMA : xan semua msih termakan doktrin ulama kalian

    meskipun MMA itu Ahmadiyah, bukan berarti semua yang diungkapkannya adalah mewakili doktrin alirannya!
    saya sendiri lebih menyukai Mu’tazilah daripada Ahlus sunnah! menurutq Mu’tazilah mampu membawa manusia ke era cahaya sedangkan ahlus sunah hanya membawa manusia ke era kegelapan kegelapan!

  17. aku islam,,gk mau debat dengan islam.

  18. blog mati, wawasan menunjukan jiwa kerdil tak berkembang, lemah akal, fikiran terkekang oleh dogma-dogma mengikat

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s