Pendapatan Kotor Film Kuntilanak (jilid 1) Rp.30 miliar, Bagaimana Kuntilanak jilid 2?

Sebenarnya tema film horor sah-sah saja, hanya saja karena campur baur dengan agama seperti “kiai datang setan hilang”,  malah membuat pemahaman seseorang akan agama campur aduk dengan hal mistis. Puncaknya ada sekumpulan ustadz yang menamakan diri sebagai “Pemburu Hantu”  melakukan hal-hal konyol dengan menangkap setan dan memasukkan ke dalam botol bekas sirup ABC diiringi bacaan ayat Alquran. Berikut artikel menarik dari  Suarapembaharuan.com berjudul:

 Fenomena Film Horor Akan Berlanjut (Feb 2007) 

Genre film horor diperkirakan masih akan merajai layar bioskop di Tanah Air. Tahun lalu sepertiga dari jumlah total produksi film Indonesia diisi oleh film horor. Dan untuk tiga bulan ke depan, “hantu-hantu lokal” seperti leak, kuntilanak dan arwah penasaran, masih akan terus berkeliaran.

Tahun 2007, dibuka dengan film Roh. Film arahan sutradara Atok Suharto ini mengisahkan tentang teror dari arwah penasaran yang dihadapi sepasang kekasih yang diperankan Ryan Delon dan Rini Yulianti. Tak lama lagi akan menyusul film Leak dengan mengandalkan teror dari makhluk menakutkan di lingkungan masyarakat Bali. Kemudian Terowongan Cablanca dengan sosok kuntilanak merah, Lewat Tengah Malam tentang arwah penasaran, dan Jembatan Ancol dari legenda Si Manis Jembatan Ancol. Sepertinya fenomena ini masih akan berlanjut.

Tahun lalu, sepertiga dari total produksi film Indoensia diisi oleh film horor. Semua menjual ketakutan, terror, dan hantu lokal. Dan nyaris semua meraup penonton dalam jumlah besar. Sebutlah Rumah Pondok Indah yang diputar awal tahun lalu mencatat jumlah 700 ribu penonton. Hantu Jeruk Perut garapan Nayato Fio Nuala meraih 790 ribu penonton. Lentera Merah yang disutradarai Hanung Bramantyo ditonton 300 ribu orang.

Sementara fim Bangku Kosong arahan Helfi Sn mencapai 834 ribu penonton dan masih akan bertambah karena akan dirilis di Malaysia dan Singapura awal tahun ini. Demikian juga dengan Film Pocong 2 garapan Rudi Soe-djarwo telah menjaring 800 ribu penonton dan hingga kini masih terus diputar di jaringan bioskop nasional. Hanya film KM 13 yang jeblok di pasar, ditonton kurang dari 100 ribu orang.

Puncak film horor diraih oleh Kuntilanak yang menembus angka 1,5 juta penonton. Jika harga tiket bioskop rata-rata Rp 20.000, berarti film arahan Rizal Mantovani itu memperoleh pendapatan kotor Rp 30 miliar. Fenomena ini mengingatkan pada sukses film Jelangkung (2001) yang juga disu-tradarai oleh Rizal Mantovani dan Jose Purnomo itu ditonton 1,2 juta orang. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, genre film ini memang tidak pernah mengalami paceklik.

Di mulai dari era 1930-an film dengan Doea Siloeman Oelar Poeti eh Item hingga era 1970-an dengan film Beranak dalam Kubur, Setan Kuburan, dan Si Manis Jembatan Ancol. Kemudian era 1980-an dengan Pembalasan Ratu Laut Selatan dan Nyi Blorong hingga era 2000-an yang menghadirkan Jelangkung, Tusuk Jelangkung, dan Kafir. Genre ini menjadi primadona. Pasalnya produser merasa “aman” membuat film horor.
Lebih Murah

Membuat film horor bisa menggunakan video yang nantinya di blow-up ke layar lebar. Pemakaian video ini jelas jauh lebih murah dari pada menggunakan seluloid. Film Jelangkung, Tusuk Jelangkung, Panggil Namaku 3X, Rumah Pondok Indah, KM 13, dan Roh, adalah film yang menggunakan video. Selain itu lokasi pengambilan gambar tidak perlu banyak karena biasanya terfokus pada satu tempat yang dianggap keramat atau sumber masalah. Seperti rumah kos Samantha pada Kuntilanak, ruang tamu dalam Rumah Pondok Indah, atau ruang kelas pada Bangku Kosong.

Dan yang terpenting film horor biasanya tidak menggunakan artis mapan. Genre ini cukup dengan pemain baru yang memiliki tampang lumayan. Akting mereka yang pas-pasan bisa ditutupi dengan make up dan efek spesial. Tak heran jika banyak penonton yang malah tertawa saat menyaksikan akting horor mereka dari film-film itu.

Namun dengan standar pengerjaan tersebut, produser dapat menekan biaya film horor hingga Rp 1,7 miliar, di luar biaya promosi. Sehingga dengan meraih penonton sekitar 300 ribu saja, produser sudah balik modal. Dibandingkan dengan film drama seperti Long Road To Heaven yang menelan biaya hingga Rp 8 miliar atau film Gie yang berbiaya hingga Rp 11 miliar, angka itu sangatlah kecil.

Tentu jangan tanya tentang mutu, hal itu akan sulit ditemukan dalam film horor kita. Namun sepertinya produser tidak peduli dengan hal itu. Menurut Shanker produser film Hantu Jeruk Purut, Rumah Pondok Indah, Panggil Namaku 3X, dan Terowongan Casablanca jangan menaruh harapan terlalu tinggi untuk film horor. “Sekarang coba lihat berapa film drama yang bisa menembus satu juga penonton dalam satu tahun,” katanya mengenai maraknya film horor beberapa waktu lalu.

Sedangkan menurut Rizal Mantovani, film horor memang bukan kelas film festival. “Film horor memang bukan tempatnya di festival. Tapi bukan berarti film kelas dua,” ucapnya

Jika dilihat dari temanya, film horor tidak lebih berkembang dibandingkan yang sudah-sudah. Film horor di era 1930-an berangkat dari cerita legenda. Kemudian di era 1970-an mengangka mistik, klenik, atau misteri, dengan jenis setan seperti pocong, kuntilanak hingga sundel bolong. Hal itu juga kembali ditampilkan dalam karya sineas era 2000-an. Mungkin yang belum kembali diangkat adalah tema horor dengan resep seks yang sempat booming di era 1980-an lewat film-film Suzanna dan Yurike Prastica.

Meski demikian, entah mengapa film horor tetap dibanjiri penonton. Mungkin benar yang diucapkan Rizal, film horor akan selalu ada sepanjang tahun karena memang disukai penonton. Primadona kok hantu sih?! [Pembaruan/Stevy Widia]

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/02/01/Hiburan/hib01.htm

3 responses to “Pendapatan Kotor Film Kuntilanak (jilid 1) Rp.30 miliar, Bagaimana Kuntilanak jilid 2?

  1. Bagi saya, film horor yg bagus adalah film yang bisa membuat saya takut😛 , semakin mereka pandai menakuti saya, semakin bagus film horor tersebut, (walaupun film tersebut tidak masuk akal) hehe😀 , tetapi sayangnya selama ini film indonesia bergenre horor sangat mudah ditebak dan sangat membosankan.. apalagi dari segi teori yang sangat tidak masuk diakal…

  2. tolooonggg … hentikan memproduksi film-film yang membodohi umat. Sudah cukup banyak manusia yang bodoh dan penakut, sekarang ditambah lagi dengan film2 hantu itu plus hantu2 impor dari hollywood … ampuuunnn

  3. ASS…. Mas aku mau tanya…. Apa beda dan kejelasan dari ilmu kebatinan dan indigo….. thoh kawanku ada yang bilang kalo ke2nya sama 2 bantuan syaitan. betulkah? and kalo bisa aku minta no hpnya…. masih banyak lagi yang pengin aku tanyain….. No Hpe Q 081802606*** / 085282287***…. WASS…..

    IRW: indigo itu anak setan / sixth sense ya? saya sdh cek di wikipedia. intinya manusia mempunyai “energi yang belum dimanfaatkan. hanya orang tertentu yang dapat memanfaatkan energi dengan cara “latihan/puasa/tirakat” dsb. seorang dukun menggunakan energi tsb untuk kepentingan negatif, santet/pelet orang lain. kalau anak indigo, saya tidak yakin itu ada. merpati putih juga menggunakan energi tsb dengan cara latihan, shg mereka bisa mematahkan besi, menglihat dengan mata tertutup dll. nanti saya email saja deh. mendingan anda beli buku saya deh🙂 isinya lengkap membahas ttg sihir juga.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s