Kesurupan pada Remaja Putri dan Poltergeist

Hampir setiap minggu atau dua minggu sekali selama bulan Oktober  – Desember 2006, saya menonton berita remaja putri yang siswa SMP dan/atau SMU (SMA) yang kesurupan. Kadang hanya satu orang beteriak-teriak histeris, kadang lebih dari 10 orang yang berteriak histeris. Orang-orang menyebut mereka kesurupan atau kerasukan jin. Lalu didatangkanlah seorang Ustadz untuk membaca doa ini dan itu.

Di Dunia Barat fenomena kerasukan pada remaja putri juga sering terjadi, bahkan dari dulu kala, mungkin 1900 atau jauh sebelum itu. Dalam buku Misteri Hantu karya John Guy ditemukan hal sebagai berikut:

Aktivitas Poltergeist (roh jahat) yang meliputi antara lain pelemparan benda-benda ke udara. Pada tahun 1998 sebuah pisau tiba-tiba melayang nyaris mengenai telinga penyelidik yang berada disebuah rumah di Nothern Territory of Australia. Sudah banyak bukti mengenai aktifitas Poltergeist ini. Tetapi sumber kekuatan ini masih menjadi misteri. Kebanyakan aktivitas poltergeist tertuju kepada remaja putri yang sedang mengalami perubahan fisik saat masa pubernya. Remaja putri ini menjadi sasaran aktivitas poltergeist karena mungkin aktivitas mental dan kimiawi tubuh yang sedang memuncak itu mempengaruhi lingkungan sekitarnya (Halaman 6).

Nah beda di barat beda di Indonesia, tidak ada satupun upaya pemerintah dan masyarakat di Indonesia untuk menyingkap penyebab dibalik  kerasukan pada remaja putri. Saya dapat mengerti hal ini karena memang masyarakat (terutama yang bergama islam) sudah keburu berasumsi bahwa penyebabnya adalah jin atau setan atau arwah/roh gentayangan.

Ada seorang teman wanita berumur antara 27-30 tahun. Pada waktu kuliah dulu ia kesurupan, selama kesurupan itu dia sebenarnya masih bisa mendengar suara teman-temannya, hanya saja ia merasa pikirannya tidak karu-karuan. Seharusnya ada sebuah penelitian yang dilakukan untuk mencari tahu mengenai masalah kerasukan pada remaja putri.

Copyright: Irwan Ghailan, https://setanhantu.wordpress.com/

3 responses to “Kesurupan pada Remaja Putri dan Poltergeist

  1. Kesurupan massal dalam ilmu psikologi dinamakan dengan histeria massal ( mass hysteria )

    http://en.wikipedia.org/wiki/Mass_hysteria

  2. wah … kenapa mas Irwan tidak membentuk sebuah kelompok yang menyelidiki soal itu saja? Sekarang ini banyak yang pake nama ruqiyah, pemburu hantu dll, tapi semuanya tidak ada yang pake cara ilmiah. Saya pernah iseng membaca sebuah novel remaja yang ceritanya berseri tentang usaha untuk mengetahui hal ikhwal sebuah teror hantu, dan memang dibaliknya selalu ada masalah2 dimasal lalu yang belum selesai.

  3. KESURUPAN

    Oleh Hedi R

    Kasus kesurupan massal di sejumlah daerah menambah muramnya perjalanan kemanusiaan kita. Dramatisasi dari kejadian tersebut seakan disyahkan oleh banyaknya campur tangan para ustadz dan kyai.

    Dalam kasus kesurupan di SMPN 29 Surabaya yang melibatkan pimpinan pesantren, bahkan fenomena tersebut dianggap hal yang memang mistis layaknya penglihatan kacamata para penayang senetron mistis.

    Bukan hanya para ustadz dan kyai, Paranormal atau Dukun pun ikut andil meramaikan bursa hiruk-pikuknya kesurupan tersebut. Mereka menilai kesurupan terjadi karena tempat terjadi kesurupan tidak dilakukan selamatan bangunan katanya, dan penilaian seperti itu hampir dipercaya oleh sebagian masyarakat kita, lebih-lebih hal-hal mistis seperti itu setiap hari tersaji ditayangan televisi.

    Sungguh membuat sangat prihatin, kondisi bangsa yang carut-marut ini telah sangat merasuki setiap aspek kehidupan. Dan sangat prihatin lagi ketika semua permasalahannya tidak diluruskan sebagai mana mestinya, bahkan seakan direkomendasikan menjadi suatu kebenaran justru oleh yang semestinya mempunyai tanggungjawab langsung terhadap pelurusannya. Suatu contoh, Depdiknas menanggapi dingin permasalahan kesurupan para siswa tersebut tanpa sedikitpun melihat permasalahannya secara ilmiah yang notabene adalah kewajibannya.

    Padahal pernyataan pakarnya yang lebih ilmiah sebagaimana disampaikan oleh psikiater Nalini M Agung justru tidak dijadikan sumber resmi untuk mengklarifikasi permasalahan kesurupan tersebut. Nalini M Agung menilai fenomena kesurupan tersebut bukanlah mistis, dan tidak ada hubungannya dengan roh halus. “Fenomena tersebut lebih kepada kaitannya dengan budaya trance (keadaan tak sadarkan diri) misalnya dalam tradisi kuda lumping”, Namun dalam kasus siswa atau buruh pabrik rokok adalah “masalah kesehatan mental yang dalam diagnosis gangguan jiwa disebut gangguan disosiatif. Disosiatif sebenarnya kecemasan hebat yang direpresi sedemikian rupa ke alam bawah sadar dan disalurkan dalam bentuk kesurupan atau kepribadian ganda. Media massa, terutama televisi, yang menayangkan gangguan disosiatif ini malah membuat penyebaran semakin luas dan seperti mewabah. Tayangan diterima masyarakat yang bepersepsi keliru tentang fenomena ini lalu terjadi peniruan (copycat) oleh remaja-remaja lain di Indonesia. Ini fenomena copycat mass hysteria,”

    Lebih lanjut, Direktur Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang (Jatim), Dr Eko Susanto Marsoeki, SpKJ mengatakan, “gejala kesurupan menunjukkan makin kompleksnya masalah yang dihadapi masyarakat. Beratnya beban masalah yang ditanggung membuat emosi orang meluap-luap dan tumpah dalam bentuk gejala-gejala yang tidak wajar, seperti berteriak-teriak atau bahkan pingsan.”

    Melihat kenyataan seperti itu saya jadi teringat, jangan-jangan kita juga sudah kesurupan, walau bentuk kesurupan kita tidak histeris berteriak-teriak dan pingsan, atau memang belum, bukankah kita juga punya problem sama seperti digambarkan oleh Dr Eko Susanto tersebut??.

    Sebagai bahan renungan saya pernah menulis catatan seperti di bawah, mudah-mudahan dapat menjadi renungan bersama:

    Terlampau banyak problem kehidupan yang menjerat,
    Kemiskinan bukan lagi monopoli di kolong-kolong jembatan,
    Sekarang telah merambah ke sebagian besar masyarakat kita,
    Suka atau tidak suka esok atau lusa siapa tahu giliran kita

    Kemiskinan mestinya adalah sebuah produk ketololan,
    Orang bilang negara kaya minyak seolah dapat kutukan,
    Negara kita contohnya, provinsi kaya minyak justru paling melarat,
    Jika demikian entah apa yang ada dalam benak kita

    Kita nyatanya bukan cuma miskin harta,
    Tapi kita juga miskin ilmu dasar pikiran lurus dalam hal filsafat dan logika,
    Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal menjadi manusia,
    Karena tidak diajarkan beretika dan tidak diajar dasar ilmu hakekat kehidupan
    KESURUPAN

    Oleh Hedi R

    Kasus kesurupan massal di sejumlah daerah menambah muramnya perjalanan kemanusiaan kita. Dramatisasi dari kejadian tersebut seakan disyahkan oleh banyaknya campur tangan para ustadz dan kyai.

    Dalam kasus kesurupan di SMPN 29 Surabaya yang melibatkan pimpinan pesantren, bahkan fenomena tersebut dianggap hal yang memang mistis layaknya penglihatan kacamata para penayang senetron mistis.

    Bukan hanya para ustadz dan kyai, Paranormal atau Dukun pun ikut andil meramaikan bursa hiruk-pikuknya kesurupan tersebut. Mereka menilai kesurupan terjadi karena tempat terjadi kesurupan tidak dilakukan selamatan bangunan katanya, dan penilaian seperti itu hampir dipercaya oleh sebagian masyarakat kita, lebih-lebih hal-hal mistis seperti itu setiap hari tersaji ditayangan televisi.

    Sungguh membuat sangat prihatin, kondisi bangsa yang carut-marut ini telah sangat merasuki setiap aspek kehidupan. Dan sangat prihatin lagi ketika semua permasalahannya tidak diluruskan sebagai mana mestinya, bahkan seakan direkomendasikan menjadi suatu kebenaran justru oleh yang semestinya mempunyai tanggungjawab langsung terhadap pelurusannya. Suatu contoh, Depdiknas menanggapi dingin permasalahan kesurupan para siswa tersebut tanpa sedikitpun melihat permasalahannya secara ilmiah yang notabene adalah kewajibannya.

    Padahal pernyataan pakarnya yang lebih ilmiah sebagaimana disampaikan oleh psikiater Nalini M Agung justru tidak dijadikan sumber resmi untuk mengklarifikasi permasalahan kesurupan tersebut. Nalini M Agung menilai fenomena kesurupan tersebut bukanlah mistis, dan tidak ada hubungannya dengan roh halus. “Fenomena tersebut lebih kepada kaitannya dengan budaya trance (keadaan tak sadarkan diri) misalnya dalam tradisi kuda lumping”, Namun dalam kasus siswa atau buruh pabrik rokok adalah “masalah kesehatan mental yang dalam diagnosis gangguan jiwa disebut gangguan disosiatif. Disosiatif sebenarnya kecemasan hebat yang direpresi sedemikian rupa ke alam bawah sadar dan disalurkan dalam bentuk kesurupan atau kepribadian ganda. Media massa, terutama televisi, yang menayangkan gangguan disosiatif ini malah membuat penyebaran semakin luas dan seperti mewabah. Tayangan diterima masyarakat yang bepersepsi keliru tentang fenomena ini lalu terjadi peniruan (copycat) oleh remaja-remaja lain di Indonesia. Ini fenomena copycat mass hysteria,”

    Lebih lanjut, Direktur Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang (Jatim), Dr Eko Susanto Marsoeki, SpKJ mengatakan, “gejala kesurupan menunjukkan makin kompleksnya masalah yang dihadapi masyarakat. Beratnya beban masalah yang ditanggung membuat emosi orang meluap-luap dan tumpah dalam bentuk gejala-gejala yang tidak wajar, seperti berteriak-teriak atau bahkan pingsan.”

    Melihat kenyataan seperti itu saya jadi teringat, jangan-jangan kita juga sudah kesurupan, walau bentuk kesurupan kita tidak histeris berteriak-teriak dan pingsan, atau memang belum, bukankah kita juga punya problem sama seperti digambarkan oleh Dr Eko Susanto tersebut??.

    Sebagai bahan renungan saya pernah menulis catatan seperti di bawah, mudah-mudahan dapat menjadi renungan bersama:

    Terlampau banyak problem kehidupan yang menjerat,
    Kemiskinan bukan lagi monopoli di kolong-kolong jembatan,
    Sekarang telah merambah ke sebagian besar masyarakat kita,
    Suka atau tidak suka esok atau lusa siapa tahu giliran kita

    Kemiskinan mestinya adalah sebuah produk ketololan,
    Orang bilang negara kaya minyak seolah dapat kutukan,
    Negara kita contohnya, provinsi kaya minyak justru paling melarat,
    Jika demikian entah apa yang ada dalam benak kita

    Kita nyatanya bukan cuma miskin harta,
    Tapi kita juga miskin ilmu dasar pikiran lurus dalam hal filsafat dan logika,
    Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal menjadi manusia,
    Karena tidak diajarkan beretika dan tidak diajar dasar ilmu hakekat kehidupan

    KESURUPAN

    Oleh Hedi R

    Kasus kesurupan massal di sejumlah daerah menambah muramnya perjalanan kemanusiaan kita. Dramatisasi dari kejadian tersebut seakan disyahkan oleh banyaknya campur tangan para ustadz dan kyai.

    Dalam kasus kesurupan di SMPN 29 Surabaya yang melibatkan pimpinan pesantren, bahkan fenomena tersebut dianggap hal yang memang mistis layaknya penglihatan kacamata para penayang senetron mistis.

    Bukan hanya para ustadz dan kyai, Paranormal atau Dukun pun ikut andil meramaikan bursa hiruk-pikuknya kesurupan tersebut. Mereka menilai kesurupan terjadi karena tempat terjadi kesurupan tidak dilakukan selamatan bangunan katanya, dan penilaian seperti itu hampir dipercaya oleh sebagian masyarakat kita, lebih-lebih hal-hal mistis seperti itu setiap hari tersaji ditayangan televisi.

    Sungguh membuat sangat prihatin, kondisi bangsa yang carut-marut ini telah sangat merasuki setiap aspek kehidupan. Dan sangat prihatin lagi ketika semua permasalahannya tidak diluruskan sebagai mana mestinya, bahkan seakan direkomendasikan menjadi suatu kebenaran justru oleh yang semestinya mempunyai tanggungjawab langsung terhadap pelurusannya. Suatu contoh, Depdiknas menanggapi dingin permasalahan kesurupan para siswa tersebut tanpa sedikitpun melihat permasalahannya secara ilmiah yang notabene adalah kewajibannya.

    Padahal pernyataan pakarnya yang lebih ilmiah sebagaimana disampaikan oleh psikiater Nalini M Agung justru tidak dijadikan sumber resmi untuk mengklarifikasi permasalahan kesurupan tersebut. Nalini M Agung menilai fenomena kesurupan tersebut bukanlah mistis, dan tidak ada hubungannya dengan roh halus. “Fenomena tersebut lebih kepada kaitannya dengan budaya trance (keadaan tak sadarkan diri) misalnya dalam tradisi kuda lumping”, Namun dalam kasus siswa atau buruh pabrik rokok adalah “masalah kesehatan mental yang dalam diagnosis gangguan jiwa disebut gangguan disosiatif. Disosiatif sebenarnya kecemasan hebat yang direpresi sedemikian rupa ke alam bawah sadar dan disalurkan dalam bentuk kesurupan atau kepribadian ganda. Media massa, terutama televisi, yang menayangkan gangguan disosiatif ini malah membuat penyebaran semakin luas dan seperti mewabah. Tayangan diterima masyarakat yang bepersepsi keliru tentang fenomena ini lalu terjadi peniruan (copycat) oleh remaja-remaja lain di Indonesia. Ini fenomena copycat mass hysteria,”

    Lebih lanjut, Direktur Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang (Jatim), Dr Eko Susanto Marsoeki, SpKJ mengatakan, “gejala kesurupan menunjukkan makin kompleksnya masalah yang dihadapi masyarakat. Beratnya beban masalah yang ditanggung membuat emosi orang meluap-luap dan tumpah dalam bentuk gejala-gejala yang tidak wajar, seperti berteriak-teriak atau bahkan pingsan.”

    Melihat kenyataan seperti itu saya jadi teringat, jangan-jangan kita juga sudah kesurupan, walau bentuk kesurupan kita tidak histeris berteriak-teriak dan pingsan, atau memang belum, bukankah kita juga punya problem sama seperti digambarkan oleh Dr Eko Susanto tersebut??.

    http://www.kompasiana.com/rachdiana

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s